<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313</id><updated>2012-02-11T08:06:18.557-08:00</updated><title type='text'>Dakwah di Jalan Allah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-3573938087073028326</id><published>2011-09-03T07:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T07:29:23.856-07:00</updated><title type='text'>Kenali Beberapa Kesalahan Anda Dalam Mendidik Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QEFdMRz6VyQ/TmI5QWOKgdI/AAAAAAAAAVk/IH3NSTotyNU/s1600/anak-soleh-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QEFdMRz6VyQ/TmI5QWOKgdI/AAAAAAAAAVk/IH3NSTotyNU/s320/anak-soleh-1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648139835681702354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun dalam perjalanannya seringkali orang tua terjebak dalam kesalahan-kesalahan yang tidak mereka sadari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti dikutip Ezine, berikut beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua ketika mendidik anak:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ceramah bukan diskusi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara psikologis, anak-anak lebih mudah mencerna jika diajak berdiskusi daripada diberi ceramah panjang lebar. Anak-anak senang diperlakukan seperti orang dewasa ketika mereka sedang bertumbuh kembang. Mereka tidak terlalu suka diatur dan dinasihati terlalu sering.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode berdiskusi justru bisa membuat anak percaya diri karena dipercaya untuk mengungkapkan pendapat. Selain itu, orang tua juga bisa lebih memahami sisi pandang anak. Siapa tahu, pendapat dari anak tersebut bisa membuka wawasan baru orang tua tentang suatu isu. Apalagi tentang isu-isu yang cepat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Meremehkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saking sibuknya, kadang orang tua sering meremehkan atau menyepelekan perubahan perilaku dari anak. Ketika anak bertumbuh kembang, melihat banyak hal, mempelajari berbagai pengalaman hidup, pelan-pelan kepribadian mereka ikut berubah. Mereka mulai bisa memilih menjadi pribadi seperti apa yang mereka inginkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan pernah menyepelekan perubahan sekecil apapun pada anak. Usahakan untuk tetap memiliki waktu bertukar cerita dengang anak Anda. Ketahui apa yang sedang ia inginkan atau ia suka. Tanyakan juga kabar teman sekolah atau teman bermainnya. Berikan perhatian terhadap kegiatannya dan diskusikan lebih jauh tentang hal-hal yang menganggu Anda. Dengan mengenali tanda-tanda perubahan lebih awal, Anda bisa mencegah terjadinya hal-hal buruk pada anak Anda di masa datang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Peraturan dan Batasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal paling umum yang dilakukan orang tua saat mendidik anak adalah mengatur dan memberi batasan. Persepsi umum terhadap hal ini adalah jika anak melanggar peraturan atau batasan maka anak akan diberi hukuman. Hukuman tersebut akan membuatnya belajar tentang kedisiplinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persepsi tersebut tak sepenuhnya salah tapi juga belum tentu baik. Daripada sekadar mengatur dan memberi batasan, Anda bisa memberi pengertian tentang situasi yang dimaksud dan memberi tahu efek baik dan buruknya kepada anak. Dengan begitu, anak bisa belajar mengenali mana hal yang baik dan mana yang buruk dengan sendirinya. Jika demikian, maka Anda tak perlu selalu repot dan keras tentang peraturan karena ia sudah bisa menilai sendiri mana hal yang baik dan buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Cita-cita yang Tak Masuk Akal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang tua yang membebankan cita-cita pribadinya pada sang anak. Ada juga yang merasa tak mau kalah saing dengan anak tetangga atau saudara. Membebankan cita-cita yang tidak masuk akal bisa membuat anak tertekan. Anak menjadi frustrasi dan bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya, pelan-pelan kenali bakat dan potensi anak. Amati kegiatannya sehari-hari atau konsultasikan dengan ahli psikologi. Dengan mengetahui bakat dan minat anak, Anda bisa mengukur potensi yang dimiliki dan merencanakan tujuan yang realistis dan membuat anak bersemangat. Dengan mengembangkan potensi dan bakatnya, anak juga akan merasa lebih percaya diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Selalu menekankan pada kesalahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang tua yang senang menegur keras anak ketika berbuat salah. Hal ini dilakukan dengan harapan anak akan berubah dan tidak mengulangi kesalahannya. Hal tersebut belum tentu sepenuhnya akan berhasil, umumnya anak-anak justru akan semakin bersikap tidak percaya diri dan enggan untuk berubah. Anak-anak juga punya gengsi yang kadang membuat mereka enggan diperintah tanpa ada kesempatan membela diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, sebaiknya orang tua jangan hanya selalu memfokuskan pada hal-hal yang negatif saja. Jika sang anak melakukan hal yang positif beri ia pujian agar ia termotivasi untuk terus berbuat baik. Jika anak melakukan kesalahan, redakan emosi Anda lalu bicaralah baik-baik dengan anak. Dengarkan sudut pandangnya dan beri masukan agar ia tidak mengulangi hal yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Menyerahkan pada sekolah dan teknologi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah dan teknologi seperti internet serta televisi memang bisa membantu Anda dalam memberi akses informasi dan pengetahuan pada anak. Tapi jangan serahkan sepenuhnya keingitahuan anak Anda pada sekolah dan internet. Hal-hal yang perlu mereka ketahui tentang obat terlarang, teman yang kurang baik, perilaku negatif, seks, dan permasalahan lainnya sebaiknya diketahui anak lewat orang tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang tua bisa berdiskusi dengan anak tentang hal-hal tersebut termasuk mengetahui tentang lingkungan pergaulan sang anak. Anak-anak yang sering berdiskusi dengan orang tua tentang hal-hal buruk bisa menurunkan risiko mereka terlibat dalam hal-hal tersebut. Jangan menjadi sosok yang menakutkan bagi anak. Jika ia merasa tidak bisa berbicara dengan Anda, maka ia akan mencari tahu ke sumber lainnya. Tentu Anda tak mau hal itu terjadi bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sydh/dtc)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-3573938087073028326?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/3573938087073028326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/kenali-beberapa-kesalahan-anda-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/3573938087073028326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/3573938087073028326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/kenali-beberapa-kesalahan-anda-dalam.html' title='Kenali Beberapa Kesalahan Anda Dalam Mendidik Anak'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QEFdMRz6VyQ/TmI5QWOKgdI/AAAAAAAAAVk/IH3NSTotyNU/s72-c/anak-soleh-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-7970677743708822760</id><published>2011-09-03T07:15:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T07:17:07.820-07:00</updated><title type='text'>Aurat Wanita dan Hukum Penutupnya</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font-size: 22px; color: rgb(0, 0, 0); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/TA8oGNhGTYI/AAAAAAAABHk/_sU0gm-4ZsM/s1600/tudung-standard-islam.jpg" style="color: rgb(85, 136, 170); text-decoration: none; "&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/TA8oGNhGTYI/AAAAAAAABHk/_sU0gm-4ZsM/s320/tudung-standard-islam.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480643358705995138" style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 240px; height: 190px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;1. Al-Quran surat Annur(24):31&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;i&gt;"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;b&gt;Keterangan :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Ayat ini menegaskan empat hal:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata "kecuali yang biasa nampak" dalam ayat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas'ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;2. Hadis riwayat Aisyah RA,&lt;i&gt; bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:"Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini," sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;b&gt;Keterangan :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Hadis ini menunjukkan dua hal:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;i&gt;a. "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu" (Qs. Al-Ahzab: 33&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;b&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka'bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: "Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;b&lt;i&gt;. "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al-Ahzab: 59).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;. Hadis Rasululloh SAW, bahwasanya beliau bersabda:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;i&gt;"Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;b&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="fullpost" style="display: inline; "&gt;Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan "buka-bukaan" adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-7970677743708822760?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/7970677743708822760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/aurat-wanita-dan-hukum-penutupnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/7970677743708822760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/7970677743708822760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/aurat-wanita-dan-hukum-penutupnya.html' title='Aurat Wanita dan Hukum Penutupnya'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/TA8oGNhGTYI/AAAAAAAABHk/_sU0gm-4ZsM/s72-c/tudung-standard-islam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-8396284801584613610</id><published>2011-09-03T07:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T07:10:48.997-07:00</updated><title type='text'>Keharusan Merapatkan Barisan Ketika Shalat Berjamaah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-size: 13px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 20px; line-height: 1.4em; color: rgb(204, 102, 0); margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;a href="http://iqraku.blogspot.com/2009/02/rapat-dan-luruskan-shof-shof-kalian.html" style="color: rgb(204, 102, 0); text-decoration: none; display: block; "&gt;Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!!&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.75em; margin-left: 0px; line-height: 1.6em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/SYcpUoWFoDI/AAAAAAAAAxA/TKM6Thw7khU/s1600-h/rapat.jpg" style="color: rgb(51, 102, 153); text-decoration: none; "&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/SYcpUoWFoDI/AAAAAAAAAxA/TKM6Thw7khU/s320/rapat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298248921028862002" border="0" style="border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 2px; padding-right: 2px; padding-bottom: 2px; padding-left: 2px; border-style: initial; border-color: initial; margin-top: 0pt; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 139px; " /&gt;&lt;/a&gt;Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq ra, kepada makmum sesaat sebelum mengimami sholat berjamaah. Hal itu merupakan wujud perhatian besar beliau terhadap tuntutan Rosululloh Saw yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Rosululloh bersabda yang artinya, &lt;span style="font-style: italic; "&gt;"Rapihkan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya rapat dan lurusnya shof termasuk bagian menegakan sholat." (HR. Bukhori 732).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, Rosululloh Saw bersabda,&lt;span style="font-style: italic; "&gt;"Rapihkan shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk syetan. Barang siapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan shof Alloh akan memutusnya." (HR. Abu Dawud no.666).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Wajibnya Meluruskan Dan Merapatkan Shof&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Rosululloh tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shof, Namun beliau juga mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shof mereka seperti dalam suatu redaksi hadist, &lt;span style="font-style: italic; "&gt;"Sungguh kalian mau merapikan shof kalian atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara kalian." (HR.Bukhori Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kaidah dalam Islam meyatakan bahwa asal perintah adalah wajib. Begitu pula mustahil suatu perkara yang mendapatkan ancaman maka hukumnya hanya sampai sunnah saja. Maka pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajibnya merapikan shof dan apabila suatu jamaah sholat tidak merapikan shof mereka maka mereka berdosa. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyah yang dapat kita lihat dalam kitab Majmu' Fatawa karangan beliau. Namun bagi yang tidak merapikan sholat maka sholatnya tetap sah berdasarkan perbuatan Anas ra yang mengingkari mereka yang tidak merapikan sholat tetapi tidak memerintahkan agar mereka mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Bagaimana Cara Meluruskan Shof?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sifat dan tata cara &lt;a href="http://iqraku.blogspot.com/2008/11/gelar-yang-diberikan-allah.html" style="color: rgb(0, 0, 0); text-decoration: none; "&gt;merapikan shof&lt;/a&gt; telah tercantum dalam banyak hadist di antaranya sebuah hadist dari Nu'man bin Basyir ra, beliau berkata, "&lt;span style="font-style: italic; "&gt;Rosululloh Saw pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapihkan shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan di antara hati kalian.' Nu'man berkata, 'Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya dan mata kakinya dengan mata kaki temannya." (HR. Abu Dawud no. 662)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist-hadist ini menunjukan secara jelas pentingnya merapikan shof dan hal itu termasuk kesempurnaan sholat. Dan hendaknya saling lurus dan tidak maju mundur antara satu dengan yang lain, dan saling rapat satu dengan yang lain, dan saling rapat antara bahu dengan bahu, kaki dengan kaki dan lutut dengan lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada &lt;a href="http://iqraku.blogspot.com/2008/11/gelombang-jahiliyyah-modern.html" style="color: rgb(0, 0, 0); text-decoration: none; "&gt;zaman sekarang&lt;/a&gt;, sunnah ini dilupakan, seandainya engkau mempraktekannya, niscaya masyarakat lari seperti keledai. Inna lillahi wa inna ilahi roji'un. Adapun kita sesudah mengetahui tentang perintah ini sudah sepantasnya berusaha sekuat kemampuan melaksanakannya. Tidaklah kita ingin merasakan kelezatan menegakan amalan ini di dalam hati kita. Serta menjadi pemegang tombak syariat di muka bumi ini. Semoga Alloh Swt memberikan hidayah kepada kita semua. Kesimpulannya, merapikan shof meliputi hal-hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Meluruskan barisan sholat dan merapikannya&lt;br /&gt;- Memenuhi shof yang masih renggang&lt;br /&gt;- Menyempurnakan shof yang pertama terlebih dahulu dan begitu seterusnya&lt;br /&gt;- Saling berdekatan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-8396284801584613610?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/8396284801584613610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/keharusan-merapatkan-barisan-ketika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/8396284801584613610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/8396284801584613610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/keharusan-merapatkan-barisan-ketika.html' title='Keharusan Merapatkan Barisan Ketika Shalat Berjamaah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1f7nYFTvmfE/SYcpUoWFoDI/AAAAAAAAAxA/TKM6Thw7khU/s72-c/rapat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-2316212969438276299</id><published>2011-09-03T06:57:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T07:07:48.502-07:00</updated><title type='text'>Proses Pernikahan Antara Juwaibar dengan Zulfa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GgW_UuFxugI/TmIzuhOAjZI/AAAAAAAAAVc/qMEspELmdDk/s1600/kisah%2Bzulfa.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 279px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-GgW_UuFxugI/TmIzuhOAjZI/AAAAAAAAAVc/qMEspELmdDk/s320/kisah%2Bzulfa.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648133756960148882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang lelaki dari Yamamah datang ke Madinah, lantas masuk Islam dan menjadi Muslim yang baik. Dia mengkaji ilmu-ilmu Islam, dan terdidik dengan pengajaran-pengajaran Islam. Namanya Juwaibar. Bentuk tubuhnya tidak tampan, kulitnya hitam, miskin, dan tidak memiliki apa-apa. Dia sebatang kara di Madinah. Setiap malam beliau tidur di masjid. Pada suatu hari para fuqara (gologan fakir) kaum Muslimin berkumpul. Nabi SAW menyuruh mereka tidur di masjid yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah mereka semakin bertambah. Maka datanglah perintah Allah agar masjid dipelihara kebersihannya dan tidak digunakan sebagai tempat tidur. Juga telah turun perintah untuk menutup pintu-pintu rumah orang-orang yang mengarah ke masjid dengan kekecualian pintu rumah Ali al-Murtadhaa dan Fatimah al-Zahra AS. Tertutuplah pintu-pintu itu dan tertutuplah jalan lalu lalang di masjid itu kecuali pintu-pintu untuk orang ramai demi kemuliaan masjid. Bagi para fuqara itu Nabi SAW menyuruh membangunkan balai di sudut-sudut kota Madinah untuk tempat tinggal mereka. Balai itu dikenal sebagai “al-sufah” dan mereka yang tinggal di dalamnya dikenal sebagai “Ahl al-Suffah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juwaibar juga termasuk di antara Ahl al-Suffah. Rasulullah SAW yang mulia dan seluruh kaum Muslimin mengasihi dan menjamin kehidupan mereka. Pada suatu hari Rasulullah SAW menemui mereka, dan berkatalah Rasulullah SAW kepada &lt;b&gt;Juwaibar&lt;/b&gt;:” Hai Juwaibar, betapa baiknya apabila engkau menikah, agar engkau dapat memenuhi hajatmu, dan menolongmu untuk kepentingan dunia dan akhiratmu.” Juwaibar menjawab:” Ya Rasulullah, tetapi siapakah yang mahu menikah denganku. Aku ini tidak bernasab mulia, tidak mempunyai apa-apa, tidak berharta juga tidak mempunyai paras yang elok. Siapakah yang tuan pandang sesuai untuk lelaki seperti diriku ini?” Rasulullah SAW menjawab:” Sesugguhnya, dengan Islam Allah telah menghinakan siapa yang mulia dalam jahiliyyah dan dengan Islam pula Dia memuliakan orang yang hina di masa jahiliyyah. Semua manusia yang putih, hitam, Quraisy, Arab, dan Ajam (bukan Arab) berasal dari Adam, dan Adam Allah ciptakan dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian itu adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.” Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya:” Tidak satu orang pun dari kaum Muslimin yang berhijrah, dan dari kalangan Ansar, yang tinggal di rumah-rumah mereka itu lebih mulia daripadamu kecuali kerana taqwa.” Kemudian Jawaibar disuruh pergi ke rumah Ziyad bin Labid al-Ansari -seorang penduduk Madinah, yang terhormat supaya berkata kepadanya:” Sesungguhnya Rasulullah mengutusku kepadamu supaya meminang putrimu, &lt;b&gt;Zulfa&lt;/b&gt; untuk diriku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka Juwaibar pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasul dan segera pergi ke rumah Ziyad. Dia dapati Ziyad sedang bersama sebahagian keluarga dan kerabatnya. Maka dia pun meminta izin untuk duduk. Katanya kepada Ziyad:” Aku membawa pesan dari Rasulullah. Apakah engkau mau aku mengatakannya secara berterus-terang?” Ziyad menjawab:” Sesungguhnya pesan Rasulullah itu mengundang kebanggaan, maka katakanlah secara terus-terang.” Berkatalah Juwaibar:” Sungguh, Rasulullah telah mengutusku untuk meminang putrimu Zulfa untuk diriku. Maka bagaimana pendapat engkau? Katakanlah agar aku sampaikan jawapannya kepada Rasulullah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ziyad berasa hairan dan bertanya kepadanya:” Rasulullah mengutusmu untuk hal ini?” Benar, Rasulullah mengutusku, dan sesungguhnya aku tidak berdusta atas nama Rasulullah,” jawab Jawaibar. Ziyad pun berkata:” Bukanlah kebiasaan kami ini mengahwinkan putri-putri kami dengan orang-orang Ansar yang tidak sedarjat dengan kami. Pulanglah engkau, dan aku akan menemui Rasulullah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keluarlah Juwaibar. Fikirannya kacau. Sesekali dia teringat ucapan Rasulullah tentang Islam yang menghapuskan kebanggaan kerana gelaran dan keturunan, dan sesekali dia berfikir tentang apa yang didengarinya dari Ziyad bahawa mereka tidak mengahwinkan putri-putri mereka kecuali dengan mereka yang sedarjat. Maka Juwaibar pun berkata kepada dirinya:” Sungguh apa yang dikatakan lelaki itu bertentangan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Demi Allah, al-Qur’an tidak turun dengan ajaran demikian, dan tidak demikian tujuan pengutusan Muhammad.” Sementara itu Zulfa ternyata mendengar segalanya. Bertanyalah ia kepada ayahnya tentang hal tersebut. Ayahnya memberitahu kepadanya kisah tersebut. Berkatalah Zulfa:” Demi Allah, sesungguhnya Juwaibar itu jujur. Jangan biarkan Juwaibar pulang menemui Rasulullah dengan hampa. Utuslah seseorang untuk memanggilnya agar kembali kepadamu.” Ziyad pun melakukan permintaan putrinya. Juwaibar pun diterima di rumah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya Ziyad pergi sendiri menemui Rasulullah yang mulia, dan berkata:” Demi ayah dan ibuku, sesugguhnya wahai Rasulullah, Juwaibar telah datang menemuiku dengan membawa pesan dari Tuan. Padahal kami tidak dapat mengahwinkan putri-putri kami dengan orang-orang yang tidak sedarjat dengan kami.” Berkatalah Rasulullah :” Wahai Ziyad, Juwaibar adalah seorang Mukmin, dan orang Mukmin itu sedarjat dengan seorang Mukminah dan orang Muslim itu sedarjat dengan seorang Muslimah.” Ziyad pun kembali, dan kemudian menyatakan apa yang didengarnya dari Rasul. Zulfa pun menjawab:” Bagaimana aku tidak rela, padahala Rasulullahlah yang mengutusnya, dan sesungguhnya aku rela untuk dikahwininya.” Maka Ziyad pun menarik tangan Juwaibar, lantas membawanya ke tengah kumpulan kaumnya, dan mengahwinkan putrinya dengan Juwaibar, si Hitam yang faqir, sesuai dengan Sunnah Allah dan RasulNya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disebabkan Juwaibar tidak memiliki rumah, maka Ziyad menyediakan rumah yang sesuai untuknya. Ia pun mempersiapkan putrinya dengan persiapan yang sempurna. Kemudian ia mengirimkannya ke rumah pernikahan dengan dua bungkus pakaian untuk Juwaibar. Maka ketika Juwaibar memasuki kamar pengantin dan melihat semua itu, bersyukurlah ia atas nikmat dan kurniaNya. Islam telah memuliakan. Perasaan syukur kepada Allah menjadikannya semakin tenggelam hingga ia melewati malam itu dengan kesyukuran di satu sudut rumah tersebut hingga subuh. Dia bersyukur kepada Allah, bermunajat dan beribadah kepadaNya. Ketika menoleh, dia sedar bahawa subuh telah tiba, dan iapun berniat untuk berpuasa pada hari itu. Keadaan seperti itu dilewati selama tiga hari berturut-turut. Dia lakukan ibadah kepada Allah SWT, hingga keraguan timbul pada keluarga wanita tersebut: Apakah lelaki itu memang perlu seorang isteri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita Juwaibar ini sampai kepada Rasulullah, maka beliau memanggilnya dan bertanyakan hal tersebut. Juwaibar menjawab:” Wahai Rasulullah ketika aku masuk, aku lihat rumah itu begitu luas, di dalamnya terdapat peralatan rumah dan tilam, juga wanita cantik. Dan semua itu untukku. Maka aku seperti diingatkan bahawa diriku sebenarnya manusia faqir dan orang asing yang tinggal di kota ini. Allah telah mengurniakan kepadaku dengan semua ini kerana Islam, maka aku wajib bersyukur kepadaNya pada malam itu. Akupun berpuasa untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Aku lewati siang hari dengan berpuasa dan malamnya untuk bersyukur kepada Allah, dan sungguh sekarang aku akan kembali ke rumah dan keluargaku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;( Sufyan bin Uyainah bin Maimun Abi Imran. Beliau lahir pada pertengahan Sya’ban tahun 107 H dan meninggal dunia pada hari sabtu tanggal 1 Rajab tahun 198 H. Dalam nasehat beliau di atas bagaimanakah wujud nyata dari menerapkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pilihlah yang baik Diennya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi". )&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-2316212969438276299?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/2316212969438276299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/proses-pernikahan-antara-juwaibar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/2316212969438276299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/2316212969438276299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/proses-pernikahan-antara-juwaibar.html' title='Proses Pernikahan Antara Juwaibar dengan Zulfa'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GgW_UuFxugI/TmIzuhOAjZI/AAAAAAAAAVc/qMEspELmdDk/s72-c/kisah%2Bzulfa.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-647266859340118990</id><published>2011-09-03T06:51:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T06:57:50.212-07:00</updated><title type='text'>Peristiwa Sahabat Alqomah dengan Ibunya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para sahabat dilanda dukacita, seorang rekan mereka bernama &lt;b&gt;Alqomah&lt;/b&gt; berada dalam sakit payah. Ia adalah sahabat Nabi yang amat setia. Sekujur tubuhnya penuh dengan bekas luka akibat melindungi Rasulullah dalam berbagai pertempuran. Yang membuat para sahabat bersedih bukan karena sakitnya Alqomah, tetapi detik-detik sekaratnya yang memilukan, mulutnya terkaup rapat, tidak mampu mengucapkan sesuatu kecuali dengan erangan kesakitan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para &lt;b&gt;sahabat&lt;/b&gt; telah mengajarinya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun lidahnya sangat kelu bagi kalimat suci itu. Para sahabat cemas, jangan-jangan &lt;b&gt;Alqomah&lt;/b&gt; mengakhiri hidupnya tanpa sebutan Allah dibibirnya. Bukankah malapetaka terbesar atas seorang muslim jika diakhir hayatnya tidak terungkap keesaan Allah? Bukankah hal itu merupakan tanda bahwa amal kebaikan bakal sia-sia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang sahabat lalu mendatangi Rasulullah dan menceritakan musibah Alqomah; Nabi cepat-cepat berangkat untuk menangani sendiri derita yang menimpa sahabat setianya itu. Dengan sabar beliau membisikan kalimat tauhid ke telinga Alqomah sambil berpesan: :Alqomah, bertaubatlah kepada Allah, dan sebutlah nama Rabbmu", Namun Alqomah tetap membisu, hanya nafasnya yang menunjukan bahwa ia masih bisa memahami ucapan Nabi. Sampai tiga kali Rasulullah mengulangi bisikannya, tetapi saja Alqomah tidak sanggup menirukannya, Cuma biji matanya yang berputar-putar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesudahan,. Rasulullah tidak lagi meneruskan ucapannya; beliau menoleh kepada para sahabat dan bertanya, "Apakah kalian tahu, masihkah Alqomah punya orang tua? Aku curiga, mungkin Alqomah pernah berbuat durhaka dan orang tuanya tidak ridho kepadanya, sebab, jangan harapkan akan turun ridho Allah jika tidak memperolah ridho dari orang tuanya." Salah seorang sahabat berkata, "Ayahanda sudah meninggal, tetapi ibunya masih ada". "Dimana rumahnya? "tanya Nabi... Sahabat yang lain menceritakan,"Ibu Alqomah bermukim dalam sebuah gubuk di kampung sebrang".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi lantas memerintahkan Ali dan Bilal untuk mencari ibu Alqomah serta mengemukakan nasib yang menimpa anaknya agar dengan demikian, ibu Alqomah bersedia memaafkan segala kesalahan anaknya. Ali dan Bilal agak terbentur kesulitan untuk menemukan rumah yang terpencil itu, mereka baru mendapat keyakinan, setelah seseorang menegaskan, bahwa gubuk yang nampak kumuh dari luar itu benar-benar ibu Alqomah. Sesudah mengetuk pintu, Ali dan Bilal kian terpengah, ternyata ibu Alqomah sudah tua renta dan bungkuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Betulkah nenek ibu Alqomah?" Ali dan Bilal bertanya. Nenek itu menggeleng, "Bukan. Saya bukan ibu Alqomah." "Tetapi orang sebelah mengatakan, gubuk ini ibu Alqomah," sanggah Ali. "Saudara mau percaya kepada siapa? Kepada tetangga sebelah, atau kepadaku yang tinggal dirumah ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum Ali dan Bilal sempat bertanya lagi, nenek itu mengatakan,"Dulu,Alqomah memang anakku. Dulu, waktu ia dalam kandunganku. Dulu, waktu aku melahirkan dengan susah payah. Dulu waktu ia kelaparan, aku yang menyuapinya serta memberinya air susu dari sisa-sisa kelelanku. Tetapi sekarang? Alqomah bukan anakku lagi!"...Bilal dan Ali saling berpandangan, mereka bagaikan ditimpa gunung besi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tiodak bisa berpikir apa-apa, akibatnya mereka tidak mampu berkata sepatah katapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nenek itu menerawang jauh, wajahnya berubah mendung..."Sesudah Alqomah dewasa dan punya istri, ia bukan anakku lagi...Alqomah terlalu sibuk dengan urusannya, terlalu gandrung terhadap bininya, sampai tidak punya waktu untuk berkunjung menengok keadaanku...Apalagi memberi nafkah, salampun tidak pernah dikirimkannya kepadaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ali dab Bilal menundukan kepalanya, nenek itu terus berbincang, "Suatu ketika Alqomah lewat didepan rumahku, ia sekali-kali itu masuk kembali ke rumah ini semenjak punya istri,..Alqomah membawa dua bungkusan rapi, yang sebuah diserahkan kepadaku,..alangkah gembiranya hatiku dan lenyap semua dendanku,..sehingga bungkusan itu segera aku buka di depan matanya, untuk membahagiakan hatinya bahwa aku sangat senang, ternyata bungkusan itu berisi selembar kain sutra yang sangat indah, kupeluk kain itu, kuciumi kain itu, Namun, apa yang terjadi!!! Ia mengambil kain itu dari tanganku, seraya berkata, "Maaf Bu, saya keliru menyerahkan hadiah untuk ibu,. kain sutra itu buat istriku...bungkusan untuk ibu adalah bungkusan yang satu lagi"...!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ali dan Bilal masih terus menutup diri, nenek itu terus menampakan kehitaman wajahnya. "Aku sebetulnya cukup kecewa. Namun, belum cukup melenyapkan kegembiraanku. Aku masih dengan suka cita menimang-nimang bungkusan yang lain sampai Alqomah meninggalkan rumah ini"...Sesudah itu, kubuka bungkusan tersebut,..dan alangkah sakit hatiku, sebab hanya selembar kain bekas yang barangkali dibelinya dari tukang loak...Masih berhakkah Alqomah menganggap dirinya sebagai anakku?"...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini betul-betul Ali dan Bilal ditimpa kebimbangan, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan,..Sesudah jelas, nenek itu sakit hati yang tak tertahankan terhadap Alqomah, Masihkah ia berkenan mengampuni anaknya!?....&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dengan ragu-ragu Ali berkata,"Alqomah sedang sekarat, nek...Ia tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid, Rasulullah memohon agar nenek mau meridhoi Alqomah, memaafkan semua kekeliruannya...."Tidak!" Nenek itu langsung memekik. "Alqomah bukan anakku,...Rasulullah boleh memerintahkan apa saja kepadaku, asal jangan menyuruhku mengampuni Alqomah, ia terlalu durhaka kepadaku, ia bukan anakku!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terpaksa Ali dan Bilal pulang dengan sia-sia, mereka menghadap Rasulullah dan menceritakan semuanya...Nabi termenung, Alqomah masih tersiksa dalam sekaratnya. Kemudian Nabi bersabda,"Baiklah, Ali dan Bilal...kembalilah ke nenek itu dan mintalah ia datang kemari,...jangan katakan apa tujuannya...katakan saja, bahwa aku, Rasulullah meminta kedatangannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka mereka membawa sebuah kendaraan sekedup, semacam tempat duduk di punggung unta, untuk menjemput ibu Alqomah,...Sementara itu Rasulullah memerintahkan sahabat lainnya untuk menyusun tumpukan kayu bakar di halaman rumah Alqomah,..dan Alqomah yang makin kepayahan dalam sekaratnya tersebut diangkat bersama pembaringannya ke dekat unggunan kayu bakar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah Ali dan Bilal tiba kembali dengan membawa nenek yang masih belum mengampuni dosa anaknya itu, Rasulullah langsung menyongsong dengan penuh hormat. "Selamat datang, nenek yang mulia.".. "Terima kasih, hai junjungan," jawab nenek dengan bangga. Namun tiba-tiba nenek rapuh itu berubah roman mukanya, ia kelihatan pucat pasi, lalu bertanya' :Siapakah yang tergolek di pembaringan dekat timbunan kayu bakar itu?"...Dan untuk apa engkau menumpukan kayu bakar?...Rasulullah menjawab, "Susunan daging yang kurus kering itu adalah bekas anak nenek, Alqomah. Ia durhaka kepada ibunya, jadi ia tersiksa dalam sekaratnya...karena itu, daripada ia menderita berkepanjangan, lebih baik akan kubakar dalam tumpukan kayu yang sebentar lagi akan dinyalakan....Nenek itu makin mengertas, putih pias sekujur kulitnya. " benerkah ia akan dibakar?"...Rasulullah menganguk pasti. "Kecuali jika nenek mengampuni dosa-dosanya"...."Tidak!" jawab nenek itu. "Bakarlah dia, aku tidak akan peduli, ia bukan anakku"!.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi lantas mengisyaratkan kepada para sahabat untuk membakar tumpukan kayu tersebut. Setelah api menjilat-jilat ke segenap penjuru. Nabi menyuruh agar Alqomah diangkat dari pembaringannya dan dilemparkan ke dalam api...Nenek itu terperanjat, Ia menjerit pada waktu Alqomah sudah digotong menuju unggunan api..."Betul-betulkah kan kau bakar dia hidup-hidup, didepanku, seorang wanita?"..Nabi kembali mengangguk. "bila nenek tidak mau memberi maaf"..tidak!..tidak!" nenek itu memekik histeris. "lebih baik di dibakar daripada aku harus memaafkannya. Bakarlah dia, Alqomah bukan anakku!!.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dengan serempak Alqomah diangkat tinggi dan diayunkan hendak ketengah api...Nenek itu menjerit dan menangis, "Ya Rasulullah, jangan bakar dia, bagaimanapun Alqomah adalah darah dagingku sendiri, biarkan aku ampuni semua kesalahannya"..Begitu terucap oleh nenek tersebut bahwa dosa Alqomah telah diampuni, seketika itu juga Alqomah dapat menyebut asma Allah dan meninggal dunia dengan tenang.....Wallahualam........&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-647266859340118990?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/647266859340118990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/peristiwa-sahabat-alqomah-dengan-ibunya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/647266859340118990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/647266859340118990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/peristiwa-sahabat-alqomah-dengan-ibunya.html' title='Peristiwa Sahabat Alqomah dengan Ibunya'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-6327261437271468632</id><published>2011-09-03T06:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T06:50:27.728-07:00</updated><title type='text'>Kisah Rabi’ah Adawiyah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika suami &lt;b&gt;rabi’ah Adawiyah&lt;/b&gt; mati, beberapa waktu kemudian &lt;b&gt;Hasan Al Basri&lt;/b&gt; dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian. Kalau kmu menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang orang yang ahli zuhud”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jawab &lt;b&gt;Rabi’ah Adawiyah&lt;/b&gt;: ”ya, aku suka saja mendapat kemuliaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim (pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hasan Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di peristri oleh kamu”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hasan Al Basri berkata : ”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku tahu. . ”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak. . ”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang dilakukan oleh malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. . ?, tanya Rabi’ah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab Hasan Al Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tanya Rabi’ah sekali lagi: Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka. . ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”, jawab Hasan Al basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rabi’ah berkata : Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat memikirkan nikah. . ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang sholehah. namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Diceritakan bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Suaminya menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui peristiwa kiamat. Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akhirat”. Lebih lanjut Ia berkata: ”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami istri pada umumnya. hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia berkata: ”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya: ”Tinggalkan diriku, silahkan kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka Aku (suaminya) pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, Ia berkata: ”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menuju istri-istrimu yang lain”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di kehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula mempunyai berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah di kemasi, mendadak pintu rumahnya hilang semua. Pencuri itu lalu duduk disamping pintu yang di pandang semula belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar suara halus menyapanya:”Letakkan barang -barang yanga kau kemasi. Keluarlah dari pintu ini”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah tertidur, Tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka ia pun sadar. barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun keluar melalui pintu tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-6327261437271468632?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/6327261437271468632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/kisah-rabiah-adawiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/6327261437271468632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/6327261437271468632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/kisah-rabiah-adawiyah.html' title='Kisah Rabi’ah Adawiyah'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1776401917149444313.post-6832619655035929220</id><published>2011-09-03T06:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T06:42:27.686-07:00</updated><title type='text'>Bercermin Diri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Sahabatku,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Sahabatku,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Sahabatku,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Sahabatku,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Sahabat-sahabat sekalian,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1776401917149444313-6832619655035929220?l=dakwah-fisabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/feeds/6832619655035929220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/bercermin-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/6832619655035929220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1776401917149444313/posts/default/6832619655035929220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-fisabilillah.blogspot.com/2011/09/bercermin-diri.html' title='Bercermin Diri'/><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11193940794631528811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
